Kamu
tinggalkanku dengan beribu kerapuhan dan beribu tetes air mata. Namun, kini kau
kembali dengan sejuta kenangan dan sejuta harapan yang mampu merobohkan dinding
kerapuhanku. Kamu yang dulu mencoretnya maka kamu juga yang menghapusnya. Rosa
yah itulah namaku. Aku seorang wanita yang hanya mampu berdiri dengan kerapuhan
yang ada. Kerapuhan yang kian hari kian membunuhku secara perlahan. Memang
dilihat dari segi umur hidupku masih terlalu dini untuk merasakan pengkhianatan
dan terlalu dini untuk merasakan sebuah kerapuhan. Namun, dunia semakin kejam
untuk menyingkirkan seseorang.
“
Aku Sayang Sama kamu, kamu mau nggak jadi kekasihku “ tanya Rizal sambil memegang
tanganku. Sontak akupun kaget dibuatnya karena sebelum kata-kata itu diucapkan
aku tak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini “ Konyoolll!!!, wess
ayo anterin aku pulang “ jawabku sambil memaksa dia,agar aku segera
diantarkan pulang. Rizal pun terlihat kecewa terhadap jawabanku atas
pertanyaannya, lain lagi denganku yang dibuat gila atas ungkapan Rizal tadi
karena tidak bisa kubohongi bahwa hatikupun sama sepertinya terlalu lama
kututupi perasaanku, ku rela menunggunya dan sekarang dewi fortuna berpihak
padaku maka aku mengambil inisiatif “ Ungkapan tadi masih berlaku? “ tanyaku
penasaran, “ yah masih lah sayang, oppsss sorry “ jawab Rizal yang mulai gugup,
“ sayang ??? iyadeehh aku juga sayang kamu sekarang kita pacaran yah sayang “
kataku sambil menggoda. Mendengar hal itu sontak Rizal pun senang dan memacu
kencang sepedanya dan hal itu membuat aku kaget dan reflek memegang pinggang
Rizal dan seketika pula kupukul bahunya karena membuatku kaget. Malam harinya
dia menelfonku sebagai kekasihku tapi karena terlalu lama menjadi sahabat maka
topik pembicaraan kami layaknya 2 sahabat. Besok pagi dia ingin mengantarkanku
sekolah sebagai kekasihku karena kendaraan dirumahku digunakan maka kuiyai saja
permintaanya. Keesokan harinya karena memang jarak rumah kita berdekatan makan
pukul 05.30 dia telah ada di depan rumah, karena hobiku berangkat sekolah mepet
so yah saat dia ada di depan aku masih menggunakan sepatu dan setelah selesai
aku pamit pada kedua orang tuaku dan segera berangkat sekolah. Dan itulah hari
pertama aku diantarkan Rizal sebagai pacarnya dan wow itu membuatku sangat
gugup. Terkadang aku bingung untuk memanggilnya dengan sebutan apa dan
kubiarkan semua mengalir begitu saja.
Memang
aku tidak satu sekolah dengannya. Umur kita tak sepantaran tapi kami punya cara
tersendiri untuk meluangkan waktu bersama dan share tentang kejadian
sehari-hari. Tuhan ciptakan dia dengan beribu keindahan. Dia tenangkan hatiku
kala aku tersiksa dengan keluargaku, dia ingatkanku waktu makan agar penyakit
lambungku tidak kumat, Dia juga siap menjadi sopir pribadiku kala aku tak
memiliki kendaraan. “Dia begitu indah tuhann!!. Akupun tak menyesal karena
menunggunya terlalu lama karena dia yang isi hariku dengan kecerahan”, kataku
dalam hati. Bulan demi bulan kita lalui bersama dengan penuh keindahan dan
kekonyolan yang kami buat. Hingga menginjak bulan ke-3 aku berada pada titik
kejenuhan, sifat keegoisannya terkadang membuatku marah, sifat keposesivannya
yang membuat saya sesak nafas. Sekolahku adalah sekolah yang sedang mengejar
grade tinggi maka dari itu setiap siswa dipacu agar seperti sekolah unggulan
lainnya. Yah SMA Jaya Buana, sekolah ini terkadang seperti monster yang mampu
memaksa setiap siswa untuk fokus pada tugasnya dan hal itulah yang membuatku
sering tidak memberi kabar pada Rizal dan itu juga yang membuatnya marah.
Aarrrghhhhh......!!!!!. itu membuatku hampir gila, hingga menginjak bulan
keempat hubungan kami diisi dengan adu
cekcok dan sebagainya dan sifat kekanak-kanakan yang dimiliki olehnya yang
membuat semua menjadi buruk. Karena bulan ini dipenuhi dengan tugas karena pada
minggu kedua bulan kelima akan diadakan Ulangan Akhir Semester dan itu
membuatku harus fokus pada nilaiku sehingga aku mengambil inisiatif untuk
menghubunginya dan “ habis gini aku UAS kita istirahat ketemuan yah, istirahat
telfon juga yah. Tapi kalo mau hubungin juga gapapa sih hehe “ pekikku dengan
nada sedikit gugup karena takut membuatnya marah, “ ooo kalo buat kebaikanmu
gapapa kok aku bakal coba, tapi pasti aku bakalan kangen kamu sayang “ jawabnya
yang membuat hatiku seneng, “ kan Cuma 1 minggu sayang pasti bisa kok, kamu
juga UAS kan? Nah biar kita fokusnya bareng “ tukasku dengan sedikit manja, “
Iyadeh buat my princess apasih yang ngga” jawabnya sambil merayu “ apaan sihh,
malu tauuuu!!! Oh iya aku mau tidur buat persiapah UH besok, good night sayang
“ sahutku sambil berpamitan untuk tidur , “ good night too sayang “ jawabnya.
Beberapa
hari kemudian dia berniat untuk mengajakku pergi tapi sekektika kutolak karena
aku sedang banyak tugas dan hal itu membuatnya jengkel. Hingga menginjak H-2
sebelum UAS dari cara smsnya sudah semakin cuek hingga menginjak hari H
komunikasiku dengan dia seketika putus, bak hilang di telan bumi tapi akal
sehatku meemberikan pikiran bahwa dia juga sedang fokus pada UASnya pula.
Kucoba untuk menghubunginya tapi tak ada respon dan hal ini membuatku jengah
dan ingin mengakhiri kebusukan ini. Kubiarkan saja hingga UAS selesai tapi
tetap saja tak ada respon seperti yang ada di televisi “ AKU GALAU TANPAMU!!!!”
yah itulah yang kurasakan. Karena aku terlalu fokus pada tugasku dan UASku maka
membuat kondisi tubuhku drop seleuruh penyakitku kumat, tapi dia berubah tak
ada respon sama sekali darinya, kemana dia??? 2 minggu dia tak ada kabar hingga
besoknya kudapati pesan bahwa dia memustuskanku. Demi tuhan itu membuatku shock
karena 2 minggu dia tak memeberi kabar, sekalinya memberi kabar langsung
menusuk hati. Kucoba bertanya tentang mengapa alasannya putus denganku dia
mengatakan bahwa dia tak ingin membuatku terluka dengan segala keegoisannya
yang selalu ingin bertemu dengaku. Dan hal itu membuatku tenang karena ternyata
dia bijaksana. “tuhan kau berikan satu kelebihannya yakni dia bijaksana karena
disaat putus dia masih mengingatku dan mempedulikan keberadaanku “ yah hanya
itu yang menenangkan hatiku.
Paginya
kukatakan pada Rahma jika aku dengan Rizal sudah putus. Sontak mereka semua
terkejut dan setelah kuceritakan semua mereka memberi semangat agar aku tetap
maju. Karena setelah UAS terdapat banyak jam kosong dan jam pulangpun
dipercepat. Karena saat itu aku sedang suntuk maka Rahma dkk mengajakku Hang
Out disalah satu mall di surabaya. Sesampainya disana yang kita lakukan hanya
bermain dan nongkrong di food court. saat sedang asyik-asyiknya ngobrol, dari
kejauhan ku melihat sosok Rizal berjalan dengan segerombolan temannya tapi dia
tampak mesra dengan wanita disampingnya kudekati mereka dan aku izin untuk
pergi ke toilet, saat kudekati kulihat rizal dan teman wanitannya menghilang
maka tanpa pikir panjang kumencari keberadaan mereka dan akhirnya mereka
ketemu, mereka berada di lantai atas dan kulihat Rizal duduk seperti menyembah
dan mengatakan “maukah kau jadi kekasihku “ pada wanita itu, seketika batinku
bergejolak,
Marah....
Depresi.....
Sedih.......
Yah
semua tercampur jadi satu dan tatkala wanita itu berkata “iya, aku mau” dan itu
makin membuat batinku tersiksa dan menjarit. Tangisanku jatuh seketika “
TUHAAN!!! Kau jahat kau cipatakan dia hanya untuk menyakitiku dia tak lebih
dari seorang pecundang!!!, kenapa harus aku tuhan !!!!, tuhan aku membencinya
dengan segenap jiwa saya !!!!. TUHANn saya lemahhhh!! “ batinku berkecamuk
karena tak kuat maka aku segera lari dan di eskalator aku bertemu Rahma dan di
akhirnya aku pergi ditoilet dan kemudian aku bercerita panjang lebar dan
tangisanku kembali pecah, Rahma pun yang mendengar ceritaku ikut pula
meneteskan air mata “ Aku Bodoh yahh...., aku bisa sayang sama cowok pecundang
itu, tapi dia jahat dia tinggalin aku buat orang lain, aku butuh dia dan saya
bodoh “ air matakupun semakin menjadi . Rahmapun hanya bisa memelukku sambil
mengatakan “Lupakan dia,dia nggak pantes buat kamu. Nangis aja selama kamu
mampu” dan aku menangis di pelukannya. Setelah menumpahkan emosiku dan hatiku
sedikit lebih tenang maka Rahma menghapus airmataku dan menyuruhku mencuci muka
dan mengajakku kembali ke tempat tongkronganku. Disana Rahma mengajak pulang
dan aku pulang dengan selamat. Sesampainya di Rumah akupun mengunci diri dalam
kamar dan kudengarkan lagu kemudian meneteskan air mata kembali sambil mengingat kejadian tadi. Kulihat
ponselku dan segala hal tentang Rizal kuhapus dan kubuang karena terlalu besar
rasa benciku padanya dan itu membuatku sedikit lebih tenang.
Hari
demi hari kulalui hingga hasil Rapot dibagikan yah targetku melenceng jauh yah
meskipun termasuk 5 besar tapi nilaiku pas-pasan. Yah karena galau memikirkan
pria pecundang itu sehingga membuatku tidak fokus belajar tapi semua telah
kusyukuri. Rahma, Zahra, Loka, Diana, Inka yah mereka yang selalu memberikan
semangat padaku untuk jauh pergi meninggalkan Rizal, jauh pergi melupakan Rizal
ditambah lagi dengan seluruh teman kelasku yang selalu ada buatku, yang selalu
menghiburku. Bulan demi bulan, hingga kenaikan kelas 11 dan aku masuk IPA.
Kudapati aku masih terbiasa tenang dengan hidup saya dengan teman-teman saya
meskipun kelas kami berpencar. “ Rizal, ga ada waktu buat mikirin orang yang
gapenting kayak kamu”, yah itu yang saya tanamkan pada hati saya.
Pada
hari senin kulihat ponselku ternyata ada sms dari nomor yang tak dikenal dan
isinya hanya “Hei “ maka kubalas dengan singkat “sapa?” dan kuketahui bahwa itu
Rizal. Sempat ada perasaan jengkel tapi bagaimanapun saya tetap ingin
membalasnya. Setelah saling bertanya kabar kamipun bertanya pada hal yang lebih
privasi tentang mengapa nomer miliknya tidak diketahui olehku ? dan aku yang
balik bertanya perkara pacarnya, dan wow tenyata hubungannya telah kandas dari
1 bulan yang lalu. Yah karena terpancing adrenalinku dan pembicaraanku semakin
mendalam karena sudah larut malam maka kuahiri smsku dengan berpamitan untuk
tidur. Hari demi hari kita lalui dengan saling ungkap tentang pertanyaan “ “mengapa”
di hati kita ?”. dia ucapkan kata “penyesalan dan minta maaf “ dan dia jelaskan
semuanya. Menurutku dia cukup dewasa untuk mengakui ini, dan setelah dia akhiri
ceritanya antara miris dan luluh, hatiku bercampur. Tapi untuk memaafkan mudah
tapi menghapus semua luka itu sulit dan butuh waktu yang lama. Dia mulai berani
mengantar – jemputku saat sekolah, dia juga mulai berani untuk mengajakku
keluar. Kata “Balikan” itu terlalu sering kudengarkan tapi aku masih ingin
melihat perubahannya. Minggu demi mingu dan merangkak ke arah bulan ke-2.
Kulihat perubahannya semakin pesat dan tak kupungkiri tuk mengatakan “Aku Jatuh
Cinta Lagi”. Hingga saat yang kunanti tiba yah dia mengajakku keluar ke suatu
tempat dan aku mengajak ke lantai atas suatu mal dimana dia menyatakan cinta
pada seorang gadis yakni setengah tahun yang lalu.
“
Ananda Rosa, maukah anda kembali menjadi kekasih saya “ tanya Rizal
“
Hah??? Semudah itu anda katakan ?? tidak tahukah anda betapa pedihnya saya
melihat anda mengungkapkan perasaan pada wanita lain sehari setelah kita
berpisah, tidak tahukah anda kala anda memutuskan saya, saya sedang membutuhkan
anda, tidak tahukah anda saya rela turun peringkat karena anda, tahukah anda,
anda yang membuat hidup saya penuh dengan kerapuhan karena pengkhianatan yang anda beri, tahukah anda, saya tak bisa
move on hanya karena pria pecundang seperti anda, tahukah anda, anda adalah
orang terjahat yang pernah saya kenal “ jelasku yang mulai bercucuran airmata
“
maafkan saya karena meninggalkan anda, maafkan saya yang lebih memilih ego saya
dibanding anda, tapi ketahuilah hanya anda yang bisa mengerti saya “ jawab Rizal dengan penuh emosional
“hidup
saya rapuh karena anda, pondasi mimpi saya hancur karena anda, anda bagai
monster dan karena anda saya tidak bisa melihat, mencium, mendengar segala
tentang anda karena saya terlalu lemah untuk semua itu “ sahutku yang mulai
dipenuh banjir air mata
“
bila saya yang telah menggores hati anda maka saya akan bertanggung jawab untuk
menghapus goresan itu. jadi ini permintaan terakhir saya, bersediakah
anda kembali menjadi kekasih saya dan saya hapuskan goresan tentang kenangan
pahit itu dan digantikan dengan sebuah lembaran yang berisi goresan kenangan
yang indah ?” tanya Rizal dengan
penuh harap
“
Maaff..” jawabku sambil meneteskan airmataku kembali
“Memang ini salah saya, saya hargai itu” sahut
Rizal dengan penuh rasa kecewa
“
Maaff..... saya masih sayang anda “ jawabku dengan airmata haru
Rizal
yang mendengar hal itu meloncat kegirangan dan segera memelukku dan mengatakan
“Dengan segenap jiwaku aku akan berusaha menjaga kepercayaanmu, dan dengan
segenap jiwaku aku menyayangimu “ jelas Rizal sambil mecium keningku
Setelah
hari itu kami berjanji saling meleburkan kegoisan kami, kami juga berusaha
untuk saling jaga dan saling pengertian. Dan kami melakoni hidup kami layaknya
pasangan kekasih semestinya bukan seperti dulu melainkan dengan diri kami yang
sekarang.

