Menangis
karena kesepian. Berhenti karena kesalahan dan menjadi murung karena
penderitaan. Hanya mampu merasakan dan sulit untuk mengungkapkan. Yah sebut
saja Rosa. Si pemikir yang melukis harinya dengan senyuman walaupun hidup dalam
penantian. Menanti memang hal yang paling membosankan apalagi untuk sekedar
menunggu kesadaran. Mengusap air matapun mungkin telah menjadi kebiasaan, satu
yang mungkin hadir dipikirannya “ Biarkan kutunggu pada dirinya hadir sebuah
kesadaran “.
“
Ma, kala aku telah lelah menitihkan air mata haruskah aku bertahan ?. Ma, kala
dia pergi haruskah aku menanti?. Bukankah itu menjenuhkan?.” Ungkap Rosa dengan
cucuran airmata pada pangkuan ibunya. Memang semenjak ayahnya pergi
meninggalkan ibunya, ibunya seakan berhenti bicara maka kala saat Rosa bercerita
ibunya hanya mampu memberikan belaian penuh kasih ke kepala Rosa. “ Ma, andaikan
hangatnya tanganmu itu sama seperti perilakunya padaku sekarang. Ma, taukah kau
bahwa aku kehilangan, yah kehilangan
sebuah kata sapaan dan pertanyaan yang selalu membuatku merasa berharga.
Ma, taukah kau aku hanya ingin mengatakan aku merindukannya. ” ucapnya dengan
deraian air mata yang semakin menjadi. Mendengar itu ibunya hanya mampu
meneteskan airmata tanpa mampu memberi saran. Suasana itupun terlarut hingga
akhirnya Rosa tertidur di pangkuan ibunya.
Keesokan
harinya setiba ia disekolah seperti biasa, dia hiasi harinya dengan candaan
walaupun yang sebenarnya dia sedang mengharapkan sebuah kesadaran. Yah Daryl
adalah nama kekasih Rosa. Sudah 1 tahun lebih mereka berpacaran, mungkin dalam
pacaran konflik sering terjadi tapi yang dihadapi Rosa kali ini adalah konflik
hati Rosa yang dibuat bimbang akan keasingan Daryl. Mungkin lebih tepatnya Rosa
kehilangan perhatian Daryl yang selalu menghiasi harinya, yang mampu membuat
Rosa merasa bahwa dirinya berharga. Yah, sudah dua hari ini Daryl tidak
menghubunginya tapi dengan sabarnya Rosa tetap menunggu Daryl, menunggu hingga
malam untuk sekedar menanti kabar dari Daryl meskipun itu nihil adanya. Dalam
senyuman Rosa selalu tersembunyi goresan tanya dihatinya “ Dimanakah kamu?
Sibukkah kamu? Hingga untuk sekedar menyapaku saja kamu lupa?” namun dengan
sekejap hilang karena selalu ada
malaikat yang mampu menghapus pikiran jelek itu dan menggantikannya dengan
pikiran baik “ mungkin dia sibuk belajar, semangat yah sayangku J”
ungkapnya dalam hati dan seketika memberi aksen senyum pada wajah murungnya.
Memang usia Daryl terpaut satu tahun lebih tua dibanding Rosa. Yah kini Rosa
duduk dibangku kelas 2 SMA maka dengan otomatis Daryl duduk dibangku kelas 3
SMA. Tahun ini akan menjadi tahun yang berat untuk Daryl, yah ini adalah tahun
penentuan langkah menuju masa depan baginya. Sebagai kekasih, ia hanya mampu
memberikan support agar sang pujaanya senantiasa bersemangat mengejar mimpinya.
Ia pun selalu berusah berpikir positif demi tercapainya mimpi Daryl meskipun
kata hati tak mengizinkan. Sungguh menyesakkan bila harus berusaha nyaman
walaupun sebenarnya sangat menyedihkan. Berdekatan dengan hari kasih sayang,
lebih tepatnya 2 hari sebelum hari kasih sayang masa hubungan mereka akan
memasuki 1,5 tahun dan hal itu memancing ide Rosa untuk membuat sesuatu yang
spesial di hari jadinya . Rosa pun bercerita pada sahabatnya Rahma tentang
niatnya yang akan membuat sebuah karya dimana menceritakan hubungan mereka
selama 1,5 tahun mulai awal kenal hingga akhirnya mereka bisa berpacaran. Awalnya
mendengar hal itu respon Rahma bagus tapi setelah Rosa mengatakan bahwa dia
sendiri yang akan mengantarkannya ke sekolahnya respon Rahma menjadi seketika
khawatir.
“
Apa kamu yakin akan mengantarkannya kesana, bukankah itu terlalu jauh untukmu?” tanya Rahma dengan rasa khawatir.
“
Tekadku kuat kok, toh saat nanti usia kita 2 tahun aku sudah tidak bisa seperti
ni karena sudah menjadi mahasiswa”
jawabnya dengan semangat
“
Tidakkah kamu malu bila kamu harus berhadapan dengan temannya ? ” tanya Rahma
kembali dengan masih khawatir.
“
Peduli apa aku dengan temannya toh yang menjadi pujaanku itu Daryl bukan para
temannya “ jawab Rosa dengan mempertahankan tekad.
“
Iya aku mengerti tapi apa kau tidak malu? “ tanya Rahma dengan masih pada rasa
khawatir
“
Semoga saja tidak, kalaupun aku malu setidaknya aku masih punya tangan untuk
menutupi wajahku hahaha” jawab Rosa dengan diselingi guyonan
“
Baiklah tekadmu memang keras, kuberi kau semangat agar terselesaikan dan
kamupun puas” jawab Rahma dan seakan masih mengganjal dihatinya.
Dengan
sekuat tenaga Rosa mempersembahkan yang terbaik. Senang,sedih,haru, bahakan
semua perasaan ia tumpahkan pada karya ini. Tak seorangpun dibiarkan untuk
sekedar bersaran karena dia hanya ingin bahwa ini semua adalah seratus persen
hasil jerih payahnya. Hingga waktu yang ditunggupun tiba. Yah, 12 Februari 2011
adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Rosa. Karena waktu yang ia
kumpulkan memang terhitung cukup singkat maka ia tak sempat untuk menjilid
karyanya. Maka saat ia pulang sekolah, ia segera bergegas menuju kios yang
membuka jasa penjilidan terdekat karena ia sangat terburu-buru maka ia tak
sem;at berpikir metode jilid yang pas untuk karyanya. Meskipun terlihat
sederhana, tapi torehan yang ia kerjakan selama ini sangatlah terlihat manis
dipandang mata. Setelah hasil jilidan
berada ditangan Rosa maka dengan mengendarai sepeda motornya Yamaha Mio, dia
langsung tancap gas menuju sekolah Daryl bersama sahabat terkasihnya Rahma.
Dari sekolah Rosa, sekolah Daryl memang terbilang sangat jauh dan karena
terlalu panjangnya jalan yang mereka tempuh maka tak ayal mereka berdua dibuat
sangat kelelahan tapi dengan berlandaskan sebuah tekad yang besar seakan Rosa
menghapukan rasa lelahnya. Sesampainya disekolah Daryl ia melihat suasana
sekolah yang cukup sepi tersirat sejuta perasaan takut dihatinya “ apakah dia
sudah pulang yah?” dan dengan inisiatif dari Rahma, iapun mengirim pesan untuk
Daryl “ Sayang, kamu sudah pulang ?”. “belum kok kenapa sayang ?” jawab Daryl,
maka melihat hal itu seketika hati Rosa pun tenang kemudian “Aku diluar
sekolahmu lho J,
keluar dong ada yang mau aku kasih buat kamu” pinta Rosa dengan menunjukkan
wajah Rahma. Menit demi menit, jam demi jam mereka menunggu Daryl. Terlihat
wajah Rosa yang sudah mulai lesu karena kelelahan.
“
Wajahmu ? Apa kamu lelah? “ Tanya Rahma dengan khawatir.
“
Aku tak apa, mungkin aku hanya kurang makan. masih lebih lelah Daryl kok “ Jawab Rosa seraya menghibur kejenuhan.
“
Kenapa kau mau menunggu ?, apa kau yakin Daryl akan keluar ? “ Tanya Rahma
dengan penuh keraguan
“
Jelas itu konyol, entahlah mungkin karena Daryl itu seperti kaki yang selalu
membuatku bisa berdiri saat aku jatuh jadi aku ingin menunjukkan bahwa demi dirinya
aku mampu berdiri selama ini tanpa takut terjatuh. Mengapa kau ragu ? “ Jawab
Rosa yang lagi-lagi penuh rasa bijaksana
“
Entahlah, buktinya selama ini Daryl tak kunjung menampakkan batang hidung.
Mataharipun akan tenggelam, aku takut kau terlalu larut saat tiba dirumah
nanti, aku takut ibumu khawatir dengamu.”
Hingga
beberapa saat kemudian Daryl mengirim pesan “ Oh iya, tapi aku lagi dirumah
temen, kalo harus kembali ke sekolah jauh, gimana kalo kamu ke kafe Minds nanti
aku kesana deh. “. Entah mengapa saat Rosa membaca pesan itu airmatanya seakan
tergelincir dan membasahi layar ponselnya maka hal itupun membuat Rahma bingung
melihatnya.
“
Apa kakimu hilang ?” tanya Rahma dengan rasa bingung.
“
Entahlah kakiku serasa patah “ jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“
Ada apa dengannya ? “ Tanya Rahma dengan penuh keanehan.
“
Pondasi kakiku kini sudah kuat tapi entah mengapa kaki ini seperti tergores,
memang kecil tapi itu sangat menyakitkan.” Ucapnya yang mulai diselingi
airmata.
“
Dia tidak ada? Dia pulang atau bagaimana” tanya Rahma dengan penuh selidik.
“ Ya, dia berada di tempat lain tak jauh dari
sini. “ jawab Rosa menjelaskan.
“
Lalu mengapa kau begitu bersedih “ tanya Rahma yang mulai terpancing.
“
Entahlah aku ada tapi seperti tidak ada. aku seperti batu yang tidak
dipedulikan, aku seperti tidak dihargai, bahkan untuk sekedar menanyakan
keadaanku saja dia tidak. Ini memang salahku dengan tidak memberitahukannya
tapi salahkah aku bila aku hanya ingin memberinya ini sebagai tanda bahwa
meskipun dia sibuk dan tak menghubungiku aku akan selalu memberinya suatu
tempat dihatiku yang terdalam.” Ucap
Rosa yang tak kuasa menahan lelehan air mata.
“
aku mengerti apa yang kau rasakan, aku tau kau sangat kecewa, lalu akan kau
apakan buku ini.” Sahut Rahma dengan memeluk Rosa yang menangis
“
Entahlah yang pasti aku hanya lelah, ayo kita pulang” ajak Rosa dengan berusaha
menghapus air mata dan dengan sekuat tenaga ia berusaha mengedarai motornya.
Diperjalanan
Rosa selalu berusaha tabah dan menahan airmatanya agar tidak leleh. Hingga
sesampainya ia mengantarkan Rahma pulang Rosa seperti tidak bisa menahan
emosinya. Mencoba tegar tapi apa daya airmata selalu deras mengucur dan karena
emosinya hingga dia tidak sadarkan bahwa didepannya ada seorang anak yang ingin
menyebrang. Rosa pun mengerem dan akibatnya ia terjatuh. Rosa seakan melupakan
rasa sakitnya dan segera meloloskan diri agar segera pulang. Dan sesampainya
dirumah, iapun bergegas menemui ibunya untuk segera menceritakan.
“
Ma, kenalkah kamu pada sosok Daryl. Yah dialah yang selama ini menjadi penghias
kanvasku, yang menjadi kakiku yang membantu menopang tubuhku untuk kembali
berdiri, yang mengenalkanku pada dunia pada setiap langkah yang ia tunjukkan.
Dia diciptakan dengan beribu keindahan tapi kini tuhan kenalkanku pada sebuah kebodohan” Ucap
rosa pada ibunya dengan bercampur air mata. Namun ibunya hanya mampu memberi
belaian hangat di kepalanya.
“
Ma, ceritakan padaku bagaimana rasanya menunggu!. Ma, ceritakan padaku
bagaimana rasanya ketika tidak dihargai!. Ma, ceritakan padaku bagaimana cara
mengalah !, Ma aku lelah......!!!!” teriak Rosa pada ibunya dengan tangis yang
sudah tak mampu tertahankan. Ibunya hanya mampu menangis dan memeluknya.
“ Ma, bagaimana rasanya merindukan tapi
diacuhkan ?. Bagaimana rasanya berbicara
tapi dibiarkan?. Ma, mengapa ini terlihat begitu menyedihkan dan menyakitkan.
Ma, ceritakan!!!!!” ucap Rosa dengan isapan tangisan yang terlihat sangat
memilukan.
“
Ma, aku mencintainya. Salahkah aku bila merindukannya ?, salahkah aku bila aku
hanya ingin mengucapkannya ?, salahkah aku bila aku datang untuk sekedar
memberi hadiahku padanya?. Ma, salahkah aku bila aku hanya ingin menunjukkan
bahwa dengan kakinya aku bisa berdiri dan hadapi dunia walau tanpa dia ?. Ma,
salahkah aku bila ingin mengatakan bahwa aku bisa membiarkan dia fokus walapun
kala menunggu itu sangat terdengar menyesakkan aku ?, Maaaaaaa, aku terlalu
letih untuk merasakan ini sendirian, aku terlalu merasa kesepian kala merasa
bosan. Maaaaaaaaaaaa aku menyerah !!!!!!! “ Ucap Rosa dengan tangis histeris.
“Nakkkkkk!!!!!
Sadarlah cinta adalah bukanlah sebuah kebahagiaan, cinta itu adalah seberapa
dalam kamu mampu berkorban untuk cinta itu walu itu menyakitkan. Berhentilah
kamu untuk menyalahkan diri sendiri.” Sahut ibunya yang dengan ajaibnya mau
berbicara meskipun diselingi tangisan.
“
mama...?, lalu kenapa mama diam kala ayah pergi meninggalkan mama untuk wanita
lain ? “ Tanya Rosa yang masih dengan keadaan yang pilu.
“
Nakkk, mama hanya berusaha menikamati sisa hidup ini bersama kamu, mama diam
karena mama tidak mau melihat kamu seperti mama. Mama tidak mau kamu merasakan
rasa sakit seperti mama. Nakk, sabar itu ketika kamu mau mengalah terhadap
egomu sehingga kamu tak ragu menunggu walaupun itu membosankan. Bukan kamu yang
salah, tapi keadaannya lah yang sedang tidak memihak, waktu seakan tidak sedang
selaras dengan jiwa. Berusahalah berdiri di posisinya yang serba sulit.
Hentikan tangisanmu ini dan rubahlah tangis penderitaan itu sebagai tangisan
doa dengan namanya sebagai sebuah puncak doa yang kau sebut, dan yakinlah bahwa
dialah yang akan selalu menjadi kakimu untuk senantiasa menuntunmu ke arah
kebaikan.” Jelas Ibunya dengan menghapus air mata Rosa.
“
Jadi aku harus apa, menunggunya ? membiarkannya, atau mendoakannya ?” tanya Rosa
yang masih terlihat bingung.
“
Sebagai seorang wanitanya patutnya kau harus tetap selalu berada di sisinya
untuk senantiasa menyemangati dan mendoakannya agar menuju gerbang kesuksesan.
Senantiasa menunggunya kala dia sedang sibuk berkutat dengan kesibukannya.
Membiarkannya fokus tanpa memiliki rasa atau sifat ingin selalu diperhatikan
dan identik sebagai penganggu. ” Tukas Ibunya yang seraya memberi ketentraman
hati pada Rosa.
“
Aku mengerti, terimakasih karena kau mamu berbicara. Sesungguhnya aku telah
merindukan hal ini. Kala tubuhku lelah aku hanya ingin mendengar suaramu untuk
sekedar menentramkan hatiku, sekali lagi terima kasih.” Ucap Rosa yang kemudian
mencium kening ibunya.
Keesokan
harinya kala Rosa sedang termenung, Rahma pun datang dan bertanya tentang
keadaanya saat ini setelah apa yang terjadi kemarin padanya.
“
Apakah hatimu masih menangis ? Apa dia sudah meminta maaf ?” tanya Rahma yang
seolah sedang mengintrogasi.
“
Minta maaf? Untuk apa? Tidak ada yang harus dimaafkan atau memaaafkan toh ini
memang tuhan yang tidak izinkan. Menangis? Setidaknya tidak seprti kemarin
mungkin kini tangisanku telah berganti menjadi panjatan doa agar Daryl
senantiasa diberi berkah dan dibukakan pintu kesuksesan untuk ujiannya. “ Jawab Rosa dengan penuh rasa bijaksana.
“
Lalu kadomu?, Akankah kau akan menunggu hingga 2 bulan kedepan ?” Tanya Rahma
kembali.
“
Lebih baik kusimpan dan akan kuberikan bila Daryl sedang tidak sibuk, mungkin
untuk saat ini sulit tapi aku akan berusaha menunggunya dengan sabarku, biarkan
aku menunggunya hingga pada dirinya hadir sebuah kesadaran. Toh ini untuk mimpi
kita, aku tak ingin menjadi perusak mimpinya. “ Jawab Rosa dengan senyum manis
menghiasi wajahnya.
Kriiiiiinggg,
bel tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi. Rosa dan Rahma pun kembali
berkutat pada aktivitas mereka. Menit demi menit, jam demi jam, haridemi hari,
minggu demi minggu hingga tak terasa suasana Ujian Daryl sedang berlangsung,
maka Sebagai kekasih Rosa hanya mampu mendoakannya dari balik tirai rumahnya.
“Daryl
kusampaikan ini melalui angin, kubiarkan kamu untuk melakukan segala tindakan
di hidupmu, kubiarkan kamu tidak menghubungiku, karena itu hak kamu. Satu hakku
yakni mendokan kamu yang terbaik demi kesuksesan hidupmu. Daryl, pernah sempat
terpikir olehku apa kamu malu memilikiku?. Tapi sudahlah itu sekedar pikiran
setan yang sekedar numpang lewat. Semoga kau bisa selesaikan semua soal itu,
tetap semangat karena doaku menyrtaimu” ucap Rosa dalam hati.
Ujianpun
berakhir dan rasa yang muncul bukanlah tentang betapa sulitnya soal tapi
seberapa baguskah hasilnya?. Sebulan setelah itu hasilpun keluar dan benar saja
hasilnya benar-benar memuaskan, rata-rata nilainya sembilan. Dan setelah Daryl
kini adalah giliran Rosa untuk melakukan ujian. Seperti melakukan sebuah janji
hasil yang mereka dapatkan benar-benar sangat memuaskan. Beberapa minggu
kemudian Daryl berencana mengikuti sebuah tes masuk Perguruan Tinggi Negeri di
Surabaya dan Rosa diminta Daryl untuk menemaninya. Dan benar saja seperti
mendapat Jackpot, Daryl diterima sebagai mahasiswa di Universitas tersebut.dan
Rosa pun memberikan selamat pada Daryl dan dari situ pula Rosa seakan ingin
meluruskan semua yang ada.
“
Setelah semua yang kulalui kusadari beberapa hal. Pertama, badai pasti berlalu.
Kedua, Aku dan kesibukanku, Kamu dan kesibukanmu. Itu yang terkadang membuat
kita lupa akan sebuah hubungan yang telah terbentang dihati kita. Kerenggangan
yang ada bukan menjadi sebuah kerapuhan melainkan menjadi sebuah kekuatan
diantara kita. Tapi tak apa tak selamanya hubungan jarak jauh selalu berakhir
dengan kesedihan. Aku percaya tuhan telah mengatur semua pada takdirnya jadi
aku tak akan menuntut lebih. Toh aku dan Daryl sama-sama dewasa dan tau mana
yang terbaik untuk kita. Bukan sekedar 1 atau 2 bulan kita telah bersama tapi
telah menginjak 2 tahun kurang, jadi bila untuk hal begini saja kita berpisah
kenapa harus menunggu 2 tahun terlebih dahulu. Cinta kami berlandaskan dari
sebuah rasa percaya jadi semua akan indah bila kita saling mengerti. Daryl aku
mencintaimu sekarang, bukan kemarin tapi tak lebih besar dibanding besok.” Ucap
Rosa dengan begitu mantab.
“
Rosa taukah kamu kala aku sedang sibuk kamu adalah orang pertama yang selalu
kuingat, maka dari itu aku tak menyia-nyiakan ini untuk tak mengajakmu, maafkan
aku yang sudah mengacuhkanmu dan terima kasih telah mau menungguku walau ku tau
itu sangat menyakitkan. Dan satu lagi akupun juga menyayangimu dengan segenap
jiwaku” Jawab Daryl yang seakan menentramkan hati Rosa.

