Sabtu, 09 Maret 2013

Menunggumu, Aku Tak Apa


Menangis karena kesepian. Berhenti karena kesalahan dan menjadi murung karena penderitaan. Hanya mampu merasakan dan sulit untuk mengungkapkan. Yah sebut saja Rosa. Si pemikir yang melukis harinya dengan senyuman walaupun hidup dalam penantian. Menanti memang hal yang paling membosankan apalagi untuk sekedar menunggu kesadaran. Mengusap air matapun mungkin telah menjadi kebiasaan, satu yang mungkin hadir dipikirannya “ Biarkan kutunggu pada dirinya hadir sebuah kesadaran “.
“ Ma, kala aku telah lelah menitihkan air mata haruskah aku bertahan ?. Ma, kala dia pergi haruskah aku menanti?. Bukankah itu menjenuhkan?.” Ungkap Rosa dengan cucuran airmata pada pangkuan ibunya. Memang semenjak ayahnya pergi meninggalkan ibunya, ibunya seakan berhenti bicara maka kala saat Rosa bercerita ibunya hanya mampu memberikan belaian penuh kasih ke kepala Rosa. “ Ma, andaikan hangatnya tanganmu itu sama seperti perilakunya padaku sekarang. Ma, taukah kau bahwa aku kehilangan, yah kehilangan  sebuah kata sapaan dan pertanyaan yang selalu membuatku merasa berharga. Ma, taukah kau aku hanya ingin mengatakan aku merindukannya. ” ucapnya dengan deraian air mata yang semakin menjadi. Mendengar itu ibunya hanya mampu meneteskan airmata tanpa mampu memberi saran. Suasana itupun terlarut hingga akhirnya Rosa tertidur di pangkuan ibunya.
Keesokan harinya setiba ia disekolah seperti biasa, dia hiasi harinya dengan candaan walaupun yang sebenarnya dia sedang mengharapkan sebuah kesadaran. Yah Daryl adalah nama kekasih Rosa. Sudah 1 tahun lebih mereka berpacaran, mungkin dalam pacaran konflik sering terjadi tapi yang dihadapi Rosa kali ini adalah konflik hati Rosa yang dibuat bimbang akan keasingan Daryl. Mungkin lebih tepatnya Rosa kehilangan perhatian Daryl yang selalu menghiasi harinya, yang mampu membuat Rosa merasa bahwa dirinya berharga. Yah, sudah dua hari ini Daryl tidak menghubunginya tapi dengan sabarnya Rosa tetap menunggu Daryl, menunggu hingga malam untuk sekedar menanti kabar dari Daryl meskipun itu nihil adanya. Dalam senyuman Rosa selalu tersembunyi goresan tanya dihatinya “ Dimanakah kamu? Sibukkah kamu? Hingga untuk sekedar menyapaku saja kamu lupa?” namun dengan sekejap  hilang karena selalu ada malaikat yang mampu menghapus pikiran jelek itu dan menggantikannya dengan pikiran baik “ mungkin dia sibuk belajar, semangat yah sayangku J” ungkapnya dalam hati dan seketika memberi aksen senyum pada wajah murungnya. Memang usia Daryl terpaut satu tahun lebih tua dibanding Rosa. Yah kini Rosa duduk dibangku kelas 2 SMA maka dengan otomatis Daryl duduk dibangku kelas 3 SMA. Tahun ini akan menjadi tahun yang berat untuk Daryl, yah ini adalah tahun penentuan langkah menuju masa depan baginya. Sebagai kekasih, ia hanya mampu memberikan support agar sang pujaanya senantiasa bersemangat mengejar mimpinya. Ia pun selalu berusah berpikir positif demi tercapainya mimpi Daryl meskipun kata hati tak mengizinkan. Sungguh menyesakkan bila harus berusaha nyaman walaupun sebenarnya sangat menyedihkan. Berdekatan dengan hari kasih sayang, lebih tepatnya 2 hari sebelum hari kasih sayang masa hubungan mereka akan memasuki 1,5 tahun dan hal itu memancing ide Rosa untuk membuat sesuatu yang spesial di hari jadinya . Rosa pun bercerita pada sahabatnya Rahma tentang niatnya yang akan membuat sebuah karya dimana menceritakan hubungan mereka selama 1,5 tahun mulai awal kenal hingga akhirnya mereka bisa berpacaran. Awalnya mendengar hal itu respon Rahma bagus tapi setelah Rosa mengatakan bahwa dia sendiri yang akan mengantarkannya ke sekolahnya respon Rahma menjadi seketika khawatir.
“ Apa kamu yakin akan mengantarkannya kesana, bukankah itu terlalu jauh  untukmu?” tanya Rahma dengan rasa khawatir.
“ Tekadku kuat kok, toh saat nanti usia kita 2 tahun aku sudah tidak bisa seperti ni karena sudah menjadi mahasiswa”  jawabnya dengan semangat
“ Tidakkah kamu malu bila kamu harus berhadapan dengan temannya ? ” tanya Rahma kembali dengan masih khawatir.
“ Peduli apa aku dengan temannya toh yang menjadi pujaanku itu Daryl bukan para temannya “ jawab Rosa dengan mempertahankan tekad.
“ Iya aku mengerti tapi apa kau tidak malu? “ tanya Rahma dengan masih pada rasa khawatir
“ Semoga saja tidak, kalaupun aku malu setidaknya aku masih punya tangan untuk menutupi wajahku hahaha” jawab Rosa dengan diselingi guyonan
“ Baiklah tekadmu memang keras, kuberi kau semangat agar terselesaikan dan kamupun puas” jawab Rahma dan seakan masih mengganjal dihatinya.
Dengan sekuat tenaga Rosa mempersembahkan yang terbaik. Senang,sedih,haru, bahakan semua perasaan ia tumpahkan pada karya ini. Tak seorangpun dibiarkan untuk sekedar bersaran karena dia hanya ingin bahwa ini semua adalah seratus persen hasil jerih payahnya. Hingga waktu yang ditunggupun tiba. Yah, 12 Februari 2011 adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Rosa. Karena waktu yang ia kumpulkan memang terhitung cukup singkat maka ia tak sempat untuk menjilid karyanya. Maka saat ia pulang sekolah, ia segera bergegas menuju kios yang membuka jasa penjilidan terdekat karena ia sangat terburu-buru maka ia tak sem;at berpikir metode jilid yang pas untuk karyanya. Meskipun terlihat sederhana, tapi torehan yang ia kerjakan selama ini sangatlah terlihat manis dipandang  mata. Setelah hasil jilidan berada ditangan Rosa maka dengan mengendarai sepeda motornya Yamaha Mio, dia langsung tancap gas menuju sekolah Daryl bersama sahabat terkasihnya Rahma. Dari sekolah Rosa, sekolah Daryl memang terbilang sangat jauh dan karena terlalu panjangnya jalan yang mereka tempuh maka tak ayal mereka berdua dibuat sangat kelelahan tapi dengan berlandaskan sebuah tekad yang besar seakan Rosa menghapukan rasa lelahnya. Sesampainya disekolah Daryl ia melihat suasana sekolah yang cukup sepi tersirat sejuta perasaan takut dihatinya “ apakah dia sudah pulang yah?” dan dengan inisiatif dari Rahma, iapun mengirim pesan untuk Daryl “ Sayang, kamu sudah pulang ?”. “belum kok kenapa sayang ?” jawab Daryl, maka melihat hal itu seketika hati Rosa pun tenang kemudian “Aku diluar sekolahmu lho J, keluar dong ada yang mau aku kasih buat kamu” pinta Rosa dengan menunjukkan wajah Rahma. Menit demi menit, jam demi jam mereka menunggu Daryl. Terlihat wajah Rosa yang sudah mulai lesu karena kelelahan.
“ Wajahmu ? Apa kamu lelah? “ Tanya Rahma dengan khawatir.
“ Aku tak apa, mungkin aku hanya kurang makan. masih lebih lelah Daryl kok “  Jawab Rosa seraya menghibur kejenuhan.
“ Kenapa kau mau menunggu ?, apa kau yakin Daryl akan keluar ? “ Tanya Rahma dengan penuh keraguan
“ Jelas itu konyol, entahlah mungkin karena Daryl itu seperti kaki yang selalu membuatku bisa berdiri saat aku jatuh jadi aku ingin menunjukkan bahwa demi dirinya aku mampu berdiri selama ini tanpa takut terjatuh. Mengapa kau ragu ? “ Jawab Rosa yang lagi-lagi penuh rasa bijaksana
“ Entahlah, buktinya selama ini Daryl tak kunjung menampakkan batang hidung. Mataharipun akan tenggelam, aku takut kau terlalu larut saat tiba dirumah nanti, aku takut ibumu khawatir dengamu.”
Hingga beberapa saat kemudian Daryl mengirim pesan “ Oh iya, tapi aku lagi dirumah temen, kalo harus kembali ke sekolah jauh, gimana kalo kamu ke kafe Minds nanti aku kesana deh. “. Entah mengapa saat Rosa membaca pesan itu airmatanya seakan tergelincir dan membasahi layar ponselnya maka hal itupun membuat Rahma bingung melihatnya.
“ Apa kakimu hilang ?” tanya Rahma dengan rasa bingung.
“ Entahlah kakiku serasa patah “ jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“ Ada apa dengannya ? “ Tanya Rahma dengan penuh keanehan.
“ Pondasi kakiku kini sudah kuat tapi entah mengapa kaki ini seperti tergores, memang kecil tapi itu sangat menyakitkan.” Ucapnya yang mulai diselingi airmata.
“ Dia tidak ada? Dia pulang atau bagaimana” tanya Rahma dengan penuh selidik.
  Ya, dia berada di tempat lain tak jauh dari sini. “ jawab Rosa menjelaskan.
“ Lalu mengapa kau begitu bersedih “ tanya Rahma yang mulai terpancing.
“ Entahlah aku ada tapi seperti tidak ada. aku seperti batu yang tidak dipedulikan, aku seperti tidak dihargai, bahkan untuk sekedar menanyakan keadaanku saja dia tidak. Ini memang salahku dengan tidak memberitahukannya tapi salahkah aku bila aku hanya ingin memberinya ini sebagai tanda bahwa meskipun dia sibuk dan tak menghubungiku aku akan selalu memberinya suatu tempat dihatiku yang terdalam.”  Ucap Rosa yang tak kuasa menahan lelehan air mata.
“ aku mengerti apa yang kau rasakan, aku tau kau sangat kecewa, lalu akan kau apakan buku ini.” Sahut Rahma dengan memeluk Rosa yang menangis
“ Entahlah yang pasti aku hanya lelah, ayo kita pulang” ajak Rosa dengan berusaha menghapus air mata dan dengan sekuat tenaga ia berusaha mengedarai motornya.
Diperjalanan Rosa selalu berusaha tabah dan menahan airmatanya agar tidak leleh. Hingga sesampainya ia mengantarkan Rahma pulang Rosa seperti tidak bisa menahan emosinya. Mencoba tegar tapi apa daya airmata selalu deras mengucur dan karena emosinya hingga dia tidak sadarkan bahwa didepannya ada seorang anak yang ingin menyebrang. Rosa pun mengerem dan akibatnya ia terjatuh. Rosa seakan melupakan rasa sakitnya dan segera meloloskan diri agar segera pulang. Dan sesampainya dirumah, iapun bergegas menemui ibunya untuk segera menceritakan.
“ Ma, kenalkah kamu pada sosok Daryl. Yah dialah yang selama ini menjadi penghias kanvasku, yang menjadi kakiku yang membantu menopang tubuhku untuk kembali berdiri, yang mengenalkanku pada dunia pada setiap langkah yang ia tunjukkan. Dia diciptakan dengan beribu keindahan tapi kini  tuhan kenalkanku pada sebuah kebodohan” Ucap rosa pada ibunya dengan bercampur air mata. Namun ibunya hanya mampu memberi belaian hangat di kepalanya.
“ Ma, ceritakan padaku bagaimana rasanya menunggu!. Ma, ceritakan padaku bagaimana rasanya ketika tidak dihargai!. Ma, ceritakan padaku bagaimana cara mengalah !, Ma aku lelah......!!!!” teriak Rosa pada ibunya dengan tangis yang sudah tak mampu tertahankan. Ibunya hanya mampu menangis dan memeluknya.
 “ Ma, bagaimana rasanya merindukan tapi diacuhkan ?.  Bagaimana rasanya berbicara tapi dibiarkan?. Ma, mengapa ini terlihat begitu menyedihkan dan menyakitkan. Ma, ceritakan!!!!!” ucap Rosa dengan isapan tangisan yang terlihat sangat memilukan.
“ Ma, aku mencintainya. Salahkah aku bila merindukannya ?, salahkah aku bila aku hanya ingin mengucapkannya ?, salahkah aku bila aku datang untuk sekedar memberi hadiahku padanya?. Ma, salahkah aku bila aku hanya ingin menunjukkan bahwa dengan kakinya aku bisa berdiri dan hadapi dunia walau tanpa dia ?. Ma, salahkah aku bila ingin mengatakan bahwa aku bisa membiarkan dia fokus walapun kala menunggu itu sangat terdengar menyesakkan aku ?, Maaaaaaa, aku terlalu letih untuk merasakan ini sendirian, aku terlalu merasa kesepian kala merasa bosan. Maaaaaaaaaaaa aku menyerah !!!!!!! “ Ucap Rosa dengan tangis histeris.
“Nakkkkkk!!!!! Sadarlah cinta adalah bukanlah sebuah kebahagiaan, cinta itu adalah seberapa dalam kamu mampu berkorban untuk cinta itu walu itu menyakitkan. Berhentilah kamu untuk menyalahkan diri sendiri.” Sahut ibunya yang dengan ajaibnya mau berbicara meskipun diselingi tangisan.
“ mama...?, lalu kenapa mama diam kala ayah pergi meninggalkan mama untuk wanita lain ? “ Tanya Rosa yang masih dengan keadaan yang pilu.
“ Nakkk, mama hanya berusaha menikamati sisa hidup ini bersama kamu, mama diam karena mama tidak mau melihat kamu seperti mama. Mama tidak mau kamu merasakan rasa sakit seperti mama. Nakk, sabar itu ketika kamu mau mengalah terhadap egomu sehingga kamu tak ragu menunggu walaupun itu membosankan. Bukan kamu yang salah, tapi keadaannya lah yang sedang tidak memihak, waktu seakan tidak sedang selaras dengan jiwa. Berusahalah berdiri di posisinya yang serba sulit. Hentikan tangisanmu ini dan rubahlah tangis penderitaan itu sebagai tangisan doa dengan namanya sebagai sebuah puncak doa yang kau sebut, dan yakinlah bahwa dialah yang akan selalu menjadi kakimu untuk senantiasa menuntunmu ke arah kebaikan.” Jelas Ibunya dengan menghapus air mata Rosa.
“ Jadi aku harus apa, menunggunya ? membiarkannya, atau mendoakannya ?” tanya Rosa yang masih terlihat bingung.
“ Sebagai seorang wanitanya patutnya kau harus tetap selalu berada di sisinya untuk senantiasa menyemangati dan mendoakannya agar menuju gerbang kesuksesan. Senantiasa menunggunya kala dia sedang sibuk berkutat dengan kesibukannya. Membiarkannya fokus tanpa memiliki rasa atau sifat ingin selalu diperhatikan dan identik sebagai penganggu. ” Tukas Ibunya yang seraya memberi ketentraman hati pada Rosa.
“ Aku mengerti, terimakasih karena kau mamu berbicara. Sesungguhnya aku telah merindukan hal ini. Kala tubuhku lelah aku hanya ingin mendengar suaramu untuk sekedar menentramkan hatiku, sekali lagi terima kasih.” Ucap Rosa yang kemudian mencium kening ibunya.
Keesokan harinya kala Rosa sedang termenung, Rahma pun datang dan bertanya tentang keadaanya saat ini setelah apa yang terjadi kemarin padanya.
“ Apakah hatimu masih menangis ? Apa dia sudah meminta maaf ?” tanya Rahma yang seolah sedang mengintrogasi.
“ Minta maaf? Untuk apa? Tidak ada yang harus dimaafkan atau memaaafkan toh ini memang tuhan yang tidak izinkan. Menangis? Setidaknya tidak seprti kemarin mungkin kini tangisanku telah berganti menjadi panjatan doa agar Daryl senantiasa diberi berkah dan dibukakan pintu kesuksesan untuk ujiannya. “  Jawab Rosa dengan penuh rasa bijaksana.
“ Lalu kadomu?, Akankah kau akan menunggu hingga 2 bulan kedepan ?” Tanya Rahma kembali.
“ Lebih baik kusimpan dan akan kuberikan bila Daryl sedang tidak sibuk, mungkin untuk saat ini sulit tapi aku akan berusaha menunggunya dengan sabarku, biarkan aku menunggunya hingga pada dirinya hadir sebuah kesadaran. Toh ini untuk mimpi kita, aku tak ingin menjadi perusak mimpinya. “ Jawab Rosa dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Kriiiiiinggg, bel tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi. Rosa dan Rahma pun kembali berkutat pada aktivitas mereka. Menit demi menit, jam demi jam, haridemi hari, minggu demi minggu hingga tak terasa suasana Ujian Daryl sedang berlangsung, maka Sebagai kekasih Rosa hanya mampu mendoakannya dari balik tirai rumahnya.
“Daryl kusampaikan ini melalui angin, kubiarkan kamu untuk melakukan segala tindakan di hidupmu, kubiarkan kamu tidak menghubungiku, karena itu hak kamu. Satu hakku yakni mendokan kamu yang terbaik demi kesuksesan hidupmu. Daryl, pernah sempat terpikir olehku apa kamu malu memilikiku?. Tapi sudahlah itu sekedar pikiran setan yang sekedar numpang lewat. Semoga kau bisa selesaikan semua soal itu, tetap semangat karena doaku menyrtaimu” ucap Rosa dalam hati.
Ujianpun berakhir dan rasa yang muncul bukanlah tentang betapa sulitnya soal tapi seberapa baguskah hasilnya?. Sebulan setelah itu hasilpun keluar dan benar saja hasilnya benar-benar memuaskan, rata-rata nilainya sembilan. Dan setelah Daryl kini adalah giliran Rosa untuk melakukan ujian. Seperti melakukan sebuah janji hasil yang mereka dapatkan benar-benar sangat memuaskan. Beberapa minggu kemudian Daryl berencana mengikuti sebuah tes masuk Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya dan Rosa diminta Daryl untuk menemaninya. Dan benar saja seperti mendapat Jackpot, Daryl diterima sebagai mahasiswa di Universitas tersebut.dan Rosa pun memberikan selamat pada Daryl dan dari situ pula Rosa seakan ingin meluruskan semua yang ada.
“ Setelah semua yang kulalui kusadari beberapa hal. Pertama, badai pasti berlalu. Kedua, Aku dan kesibukanku, Kamu dan kesibukanmu. Itu yang terkadang membuat kita lupa akan sebuah hubungan yang telah terbentang dihati kita. Kerenggangan yang ada bukan menjadi sebuah kerapuhan melainkan menjadi sebuah kekuatan diantara kita. Tapi tak apa tak selamanya hubungan jarak jauh selalu berakhir dengan kesedihan. Aku percaya tuhan telah mengatur semua pada takdirnya jadi aku tak akan menuntut lebih. Toh aku dan Daryl sama-sama dewasa dan tau mana yang terbaik untuk kita. Bukan sekedar 1 atau 2 bulan kita telah bersama tapi telah menginjak 2 tahun kurang, jadi bila untuk hal begini saja kita berpisah kenapa harus menunggu 2 tahun terlebih dahulu. Cinta kami berlandaskan dari sebuah rasa percaya jadi semua akan indah bila kita saling mengerti. Daryl aku mencintaimu sekarang, bukan kemarin tapi tak lebih besar dibanding besok.” Ucap Rosa dengan begitu mantab.
“ Rosa taukah kamu kala aku sedang sibuk kamu adalah orang pertama yang selalu kuingat, maka dari itu aku tak menyia-nyiakan ini untuk tak mengajakmu, maafkan aku yang sudah mengacuhkanmu dan terima kasih telah mau menungguku walau ku tau itu sangat menyakitkan. Dan satu lagi akupun juga menyayangimu dengan segenap jiwaku” Jawab Daryl yang seakan menentramkan hati Rosa.