Minggu, 06 Januari 2013

Kamu Bilang Itu Karena Aku


Awalnya, kutemui dia tanpa ada rasa apapun yang ada hanya keasingan. Kini dia yang menjadi pewarna dalam kanvas hidupku, dia yang temani hariku dan dia yang menyayangiku dan akupun sebaliknya.
Yah kenalkan namaku Intan, ini kisahku tentang ketidaksengajaanku kala aku bertemu dia. Dia bernama Satya, sosok idaman semua kaum hawa, sosok rupawan dan dewasa. Saat itu ketika pondok pesantrenku Amanatul Ummah mengadakan wisuda, dan disitulah salah satu adik kelasku berkata bahwa ada seseorang yang mencariku dan katanya dia mengenalku dia sering dikenal dengan sebutan “Bang Satya”. Awalnya sempat asing dan setelah acara inti selesai salah satu panitia memanggilku dan berkata “eh kamu dipanggil sama temenku lho !, itu anaknya disitu “, “sapa mas?” jawabku, “itu bang Satya”. Dan setelah kutemui dia yang terbersit hanya rasa kagum karena sosok rupawannya. Dan ternyata dia memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa “kita adalah tetangga” kita pun juga akan saling berjanji untuk saling mampir kerumah.
Setelah kutemui dia, hubungan kita pun semakin akrab tapi sayang dari pertemuan yang singkat itu timbul penyesalan karena tidak kudapatkan nomer handphone yang bisa kuhubungi. Karena pertemuan yang singkat itu teman-temankupun memberi sambutan yang hebat seperti “hebat banget kamu kalo kamu bisa jadi pacar anak itu. Udah cakep, baik pula jarang ada cowok yang kayak gitu.”. setelah kejadian itu ternyata dia tidak ingkar janji beberapa hari kemudian dia berkunjung kerumahku. Karena pada saat itu aku masih jelek jadi aku tidak berani untuk menemui dia so, kusuruh adikku untuk menemui dia dan tak lupa ku suruh dia untuk membawa handphone dengan pikiran aku bisa mendapatkan nomer handphone bang Satya. Saat adikku keluar aku hanya bisa mengintip dari jendela dan ternyata adikku berhasil mendapatkan nomer handphone bang Satya. Setelah adikku kembali kutanya pada adikku tentang alasan “kenapa bang Satya main kerumah?” dan betapa kagetnya aku bahwa alasan dia berkunjung adalah aku. Setelah kuminta nomernya maka ku kirim sms padanya dengan tulisan “kakak”. Dan ternyata responnya baik lho.
Hari demi hari kita lalui hingga aku mencetuskan bahwa aku ingin jika dia menjadi kakakku dan dia menyanggupinya. Sungguh, betapa senangnya aku memiliki kakak seperti bang Satya. Kami selalu saling mengingatkan satu sama lain. Dia sempat bertanya padaku tentang alasanku “mengapa aku memilih dia sebagai kakakku? “ dia juga bertanya “apa kamu yakin atas pilihanmu bahwa aku akan sanggup menjadi kakak yang baik untukmu ?”. Sungguh, betapa kagumnya aku pada sosoknya yangbegitu dewasa dalam mengahadapi segalanya. Aku seperti dibisukan oleh sosoknya.
Aku ingat saat Ramadhan tiba. Perhatianku padamu semakin meningkat dan kamupun sama denganku. Dan pembicaraan kita lebih mengarah pada inti dari hati. Aku sempat cemburu pada saat kamu memajang background handphone kamu dengan fotomu bersama seorang wanita. Sungguh, batinku sangat berkecamuk. Aku sempat bertanya padamu tentang siapa wanita itu dan ternyata itu adalah temanmu. Disisi lain aku senang tapi disisi lain aku cemburu bila kamu berada dengan wanita yang selain aku. Kamu juga pernah berkata padaku bahwa kamu tidak pernah bisa membedakan perasaan cinta dengan perasaan lain, selain itu kamu juga tidak peka terhadap perasaan orang sekitar, dan kamu sempat berjanji bahwa “aku akan belajar peka demi kamu.”. akupun lega dengan itu sungguh ingin terbang rasanya kala aku mendengar itu.
Karena rumah kita berdekatan maka masjid untuk sholat tarawih pun sama, dan karena hal itu aku sering salting dibuatmu bang. Aku lihat sosokmu dan kamu balik melihatku rasanya bumi berhenti berputar. Lagi-lagi kau buatku kagum dengan segala pesonamu. Aku hanya sanggup melihatmu dari kejauhan karena kala aku didekatmu kutakut segala kelemahanku menjadi nilai minus tentang diriku dalam dirimu. “ Tuhan bila dia memang jodohku dekatkan aku, dan bila memang dia bukan takdirku cukup jadikan dia pelipur lara dalam segala masalahku. “.  Kamu pernah ungkapkan padaku “Aku sayang kamu dek !”, “aku juga kak” tapi sayang itu hanya ungkapan karena aku tau kamu belum sepenuhnya memahami apa itu perasaan.
Hubungan kita pun semakin akrab dan semakin tak canggung lagi. Setiap kita pulang sholat shubuh dari masjid kamu selalu menyempatkan membarengiku bang. Kamu tau hatiku rasanya ingin meledak kala aku berada di dekatmu. Aku ingat kamu juga sempat meminta fotoku tapi karena aku begitu malu maka aku menolaknya, tetapi kamu tetap ngotot dan mengatakan “ hanya kamu kenanganku disini dek “ sumpah yahhh itu kata yang membuatku ingin meledak menjadi berkeping-keping.  Malamnya aku telah merencanakan bahwa aku tak akan menampakkan batang hidungku padamu tetapi sayang, perhitunganku salah saat kupikir kamu tidak datang ternyata kamu ada di depan dan sedang menoleh ke arahku, kulihat kau sedang berancang-ancang mengambil handphone untuk meminta fotoku. Maka secepat kilat aku lari menuju rumah tanpa memerdulikanmu. Dan ternyata kupikir kamu akan marah pada perilakuku yang terkesan menghindarimu tapi ternyata aku salah kamu malah tertawa dan merasa bahwa perilakuku sangat menggelikan.
“Tuhan, dia begitu indah, aku kembali dibuat kagum olehnya sungguh aku tak mau kehilangannya, pantaskah aku untuknya?” timbul pertanyaan dalam hati tentang kepantasanku yang lemah ini untuk sosok bang Satya yang begitu mengagumkan. Pernah suatu kali, saat itu H-1 sebelum takbiran karena saat itu seluruh umat islam masih dibuat galau pada kepastian hari raya. Aku pikir aku akan kesepian karena sebelumnya kamu minta izin untuk absen teraweh dan wowww kamu datang lho. Kegalauanku hilang sekejap begitu aku melihat kamu bang. Dan karena itu terawih terakhir aku dan temanku memutuskan untuk tidak mengikuti sholat tersebut melainkan menggantikannya dengan ngobrol. Dan ternyata kamu menyaksikan mimik wajahku kala aku ngobrol bersama temanku, kamu melihat mimik wajahku kala aku tertawa. Saat aku pulang kulirik hapeku dan ternyata ada pesan dari kamu yang berbunyi “ kalo kamu lagi ketawa, kamu kelihatan cantik dek”. Pesan itu membuatku senang tak karuan dan membuatku semakin tak sanggup melepasmu bang.
Momen terbaik yang tak akan mungkin kulupakan kala hari raya lebaran kita sholat ied bersama dan setelah sholat ied kamu mengajakku pulang bareng. Saat berjalan bersama terlihat kegeramanmu karena setiap kamu mendekat aku selalu menjauh maka dari itu kamu menggandengku dan ditengah perjalanan kamu mengatakan “ Aku sayang sama kamu, Jangan tinggalin aku “ yang sanggup kulakukan hanyalah membisu seribu bahasa. Setelah mengantarkanku pulang kamupun pamit pulang. Hanya sejenak di rumah, kemudianku keluargaku mengajak untuk soan ke rumah tetangga dan terakhir tanpa sepengetahuanku keluargaku soan kerumahmu bang, sumpah aku malu, salting dan sebagainya. Semua berjalan baik hingga saat pulang mungkin allah mendengar doamu yang menyatakan ingin berfoto denganku dan itu semua terkabul bahkan lebih kita foto layaknya perkenalan dua kelarga dalam pernikahan. Akhirnya keluargakupun pamit pulang dan malamnya kamu mengatakan “ kakak udah bisa mengerti perasaan ini “, dan aku hanya berkata “ wah pinter dong “, “di dunia ini aku hanya sayang sama kamu” jawabnya, “ Aku juga kok kak “jawabku ,  “ kamu mau jadi gadisku “ tanyanya . dan hanya dalam durasi 5 menit aku menjawab iya. Dan resmilah sudah aku berpacaran denganmu.
Kini kamulah yang menjadi pewarna dalam kanvasku, kamu yang selalu temani hariku dan kamu selalu jadi pelipur lara dalam setiap masalahku. Aku ingat kamu memberiku kado terindah dalam hidupku kado pertama itu kamu dan kado kedua, itu boneka teddy bear dan isi pesan yang menyatakan bahwa “aku akan menembakmu lagi secara langsung setelah aku lulus nanti”. Dan itu janjimu.