Awalnya, kutemui dia tanpa ada rasa apapun
yang ada hanya keasingan. Kini dia yang menjadi pewarna dalam kanvas hidupku, dia
yang temani hariku dan dia yang menyayangiku dan akupun sebaliknya.
Yah kenalkan namaku Intan, ini kisahku tentang
ketidaksengajaanku kala aku bertemu dia. Dia bernama Satya, sosok idaman semua
kaum hawa, sosok rupawan dan dewasa. Saat itu ketika pondok pesantrenku
Amanatul Ummah mengadakan wisuda, dan disitulah salah satu adik kelasku berkata
bahwa ada seseorang yang mencariku dan katanya dia mengenalku dia sering
dikenal dengan sebutan “Bang Satya”. Awalnya sempat asing dan setelah acara
inti selesai salah satu panitia memanggilku dan berkata “eh kamu dipanggil sama
temenku lho !, itu anaknya disitu “, “sapa mas?” jawabku, “itu bang Satya”. Dan
setelah kutemui dia yang terbersit hanya rasa kagum karena sosok rupawannya.
Dan ternyata dia memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa “kita adalah
tetangga” kita pun juga akan saling berjanji untuk saling mampir kerumah.
Setelah kutemui dia, hubungan kita pun semakin
akrab tapi sayang dari pertemuan yang singkat itu timbul penyesalan karena
tidak kudapatkan nomer handphone yang bisa kuhubungi. Karena pertemuan yang
singkat itu teman-temankupun memberi sambutan yang hebat seperti “hebat banget
kamu kalo kamu bisa jadi pacar anak itu. Udah cakep, baik pula jarang ada cowok
yang kayak gitu.”. setelah kejadian itu ternyata dia tidak ingkar janji
beberapa hari kemudian dia berkunjung kerumahku. Karena pada saat itu aku masih
jelek jadi aku tidak berani untuk menemui dia so, kusuruh adikku untuk menemui
dia dan tak lupa ku suruh dia untuk membawa handphone dengan pikiran aku bisa
mendapatkan nomer handphone bang Satya. Saat adikku keluar aku hanya bisa
mengintip dari jendela dan ternyata adikku berhasil mendapatkan nomer handphone
bang Satya. Setelah adikku kembali kutanya pada adikku tentang alasan “kenapa
bang Satya main kerumah?” dan betapa kagetnya aku bahwa alasan dia berkunjung
adalah aku. Setelah kuminta nomernya maka ku kirim sms padanya dengan tulisan
“kakak”. Dan ternyata responnya baik lho.
Hari demi hari kita lalui hingga aku
mencetuskan bahwa aku ingin jika dia menjadi kakakku dan dia menyanggupinya.
Sungguh, betapa senangnya aku memiliki kakak seperti bang Satya. Kami selalu
saling mengingatkan satu sama lain. Dia sempat bertanya padaku tentang alasanku
“mengapa aku memilih dia sebagai kakakku? “ dia juga bertanya “apa kamu yakin
atas pilihanmu bahwa aku akan sanggup menjadi kakak yang baik untukmu ?”. Sungguh,
betapa kagumnya aku pada sosoknya yangbegitu dewasa dalam mengahadapi segalanya.
Aku seperti dibisukan oleh sosoknya.
Aku ingat saat Ramadhan tiba. Perhatianku
padamu semakin meningkat dan kamupun sama denganku. Dan pembicaraan kita lebih
mengarah pada inti dari hati. Aku sempat cemburu pada saat kamu memajang
background handphone kamu dengan fotomu bersama seorang wanita. Sungguh,
batinku sangat berkecamuk. Aku sempat bertanya padamu tentang siapa wanita itu
dan ternyata itu adalah temanmu. Disisi lain aku senang tapi disisi lain aku
cemburu bila kamu berada dengan wanita yang selain aku. Kamu juga pernah
berkata padaku bahwa kamu tidak pernah bisa membedakan perasaan cinta dengan
perasaan lain, selain itu kamu juga tidak peka terhadap perasaan orang sekitar,
dan kamu sempat berjanji bahwa “aku akan belajar peka demi kamu.”. akupun lega
dengan itu sungguh ingin terbang rasanya kala aku mendengar itu.
Karena rumah kita berdekatan maka masjid untuk
sholat tarawih pun sama, dan karena hal itu aku sering salting dibuatmu bang.
Aku lihat sosokmu dan kamu balik melihatku rasanya bumi berhenti berputar.
Lagi-lagi kau buatku kagum dengan segala pesonamu. Aku hanya sanggup melihatmu
dari kejauhan karena kala aku didekatmu kutakut segala kelemahanku menjadi nilai
minus tentang diriku dalam dirimu. “ Tuhan bila dia memang jodohku dekatkan
aku, dan bila memang dia bukan takdirku cukup jadikan dia pelipur lara dalam
segala masalahku. “. Kamu pernah
ungkapkan padaku “Aku sayang kamu dek !”, “aku juga kak” tapi sayang itu hanya
ungkapan karena aku tau kamu belum sepenuhnya memahami apa itu perasaan.
Hubungan kita pun semakin akrab dan semakin
tak canggung lagi. Setiap kita pulang sholat shubuh dari masjid kamu selalu
menyempatkan membarengiku bang. Kamu tau hatiku rasanya ingin meledak kala aku
berada di dekatmu. Aku ingat kamu juga sempat meminta fotoku tapi karena aku begitu
malu maka aku menolaknya, tetapi kamu tetap ngotot dan mengatakan “ hanya kamu
kenanganku disini dek “ sumpah yahhh itu kata yang membuatku ingin meledak
menjadi berkeping-keping. Malamnya aku
telah merencanakan bahwa aku tak akan menampakkan batang hidungku padamu tetapi
sayang, perhitunganku salah saat kupikir kamu tidak datang ternyata kamu ada di
depan dan sedang menoleh ke arahku, kulihat kau sedang berancang-ancang
mengambil handphone untuk meminta fotoku. Maka secepat kilat aku lari menuju
rumah tanpa memerdulikanmu. Dan ternyata kupikir kamu akan marah pada
perilakuku yang terkesan menghindarimu tapi ternyata aku salah kamu malah
tertawa dan merasa bahwa perilakuku sangat menggelikan.
“Tuhan, dia begitu indah, aku kembali dibuat
kagum olehnya sungguh aku tak mau kehilangannya, pantaskah aku untuknya?”
timbul pertanyaan dalam hati tentang kepantasanku yang lemah ini untuk sosok
bang Satya yang begitu mengagumkan. Pernah suatu kali, saat itu H-1 sebelum
takbiran karena saat itu seluruh umat islam masih dibuat galau pada kepastian
hari raya. Aku pikir aku akan kesepian karena sebelumnya kamu minta izin untuk
absen teraweh dan wowww kamu datang lho. Kegalauanku hilang sekejap begitu aku
melihat kamu bang. Dan karena itu terawih terakhir aku dan temanku memutuskan
untuk tidak mengikuti sholat tersebut melainkan menggantikannya dengan ngobrol.
Dan ternyata kamu menyaksikan mimik wajahku kala aku ngobrol bersama temanku,
kamu melihat mimik wajahku kala aku tertawa. Saat aku pulang kulirik hapeku dan
ternyata ada pesan dari kamu yang berbunyi “ kalo kamu lagi ketawa, kamu
kelihatan cantik dek”. Pesan itu membuatku senang tak karuan dan membuatku
semakin tak sanggup melepasmu bang.
Momen terbaik yang tak akan mungkin kulupakan
kala hari raya lebaran kita sholat ied bersama dan setelah sholat ied kamu
mengajakku pulang bareng. Saat berjalan bersama terlihat kegeramanmu karena
setiap kamu mendekat aku selalu menjauh maka dari itu kamu menggandengku dan
ditengah perjalanan kamu mengatakan “ Aku sayang sama kamu, Jangan tinggalin
aku “ yang sanggup kulakukan hanyalah membisu seribu bahasa. Setelah
mengantarkanku pulang kamupun pamit pulang. Hanya sejenak di rumah, kemudianku
keluargaku mengajak untuk soan ke rumah tetangga dan terakhir tanpa
sepengetahuanku keluargaku soan kerumahmu bang, sumpah aku malu, salting dan
sebagainya. Semua berjalan baik hingga saat pulang mungkin allah mendengar
doamu yang menyatakan ingin berfoto denganku dan itu semua terkabul bahkan
lebih kita foto layaknya perkenalan dua kelarga dalam pernikahan. Akhirnya
keluargakupun pamit pulang dan malamnya kamu mengatakan “ kakak udah bisa
mengerti perasaan ini “, dan aku hanya berkata “ wah pinter dong “, “di dunia
ini aku hanya sayang sama kamu” jawabnya, “ Aku juga kok kak “jawabku , “ kamu mau jadi gadisku “ tanyanya . dan
hanya dalam durasi 5 menit aku menjawab iya. Dan resmilah sudah aku berpacaran
denganmu.
Kini kamulah yang menjadi pewarna dalam
kanvasku, kamu yang selalu temani hariku dan kamu selalu jadi pelipur lara
dalam setiap masalahku. Aku ingat kamu memberiku kado terindah dalam hidupku
kado pertama itu kamu dan kado kedua, itu boneka teddy bear dan isi pesan yang
menyatakan bahwa “aku akan menembakmu lagi secara langsung setelah aku lulus
nanti”. Dan itu janjimu.